← Semua berita
Bagikan cerita

Bagikan halaman ini

Hermanus Dona dan Rumah Besar Sumba

Lelaki itu bernama Hermanus Malo Dona. Tubuhnya sedikit gempal, dengan tinggi seumumnya pria Indonesia. Tangan dan lengannya terlihat kokoh, meski tidak berotot. Menurut kisah, ia pernah menekuni seni beladiri karate. Pun, semasa kuliah di Salatiga, ia aktif di Resimen Mahasiswa (Menwa) yang menuntutnya banyak berlatih fisik. Pantas saja di usianya yang lebih dari setengah abad, tangan dan lengannya masih sekokoh itu.

Hermanus Dona dan Rumah Besar Sumba

Tutur katanya lembut dan hampir tidak meledak-ledak. Sorot matanya pun lembut. Ramah pada siapa saja dan selalu menggunakan diksi yang santun ketika mengungkapkan gagasannya atau menanggapi pendapat orang lain. Mungkin karena itu dia memilih jalan hidup sebagai seorang guru. Guru, dalam budaya apa pun, selalu memiliki tugas untuk mendatangkan ketentraman. Entah mengapa, guru selalu menjadi standar moral dalam masyarakat. Guru, haruslah seseorang yang baik, rendah hati, dan memberi arah pada hidup manusia. Dalam hal ini, guru dan rohaniwan kelihatannya memiliki peran yang hampir sama. Dan Hermanus, rasanya cukup berhasil dalam hal ini.

Hermanus menghabiskan masa remajanya di Waikabubak, Sumba Barat. Lulus dari SMA Kristen Waikabubak, ia melanjutkan studinya di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, jurusan Bahasa Inggris. Hijrah ke Jakarta menjadi pengajar di beberapa lembaga studi Bahasa Inggris hingga akhirnya menjadi guru di sebuah sekolah internasional di Jakarta Utara.

Suatu waktu, jalan nasib membawanya ke Lembah Cibubur, Jakarta Timur. Kalian pikir untuk menjadikan dia guru yang hebat, pengusaha yang kaya, atau politisi di Senayan? Sama sekali tidak. Di sini, ia berjumpa dengan orang orang Sumba dari berbagai suku dan wilayah yang ada di Sumba. Ia berjumpa dengan orang Sumba Timur, orang Anakalang, Kodi, Laura, dan tentu saja orang Loli. Pokoknya seantero Sumba raya.

Ada sesuatu yang terasa begitu hangat dan lekat dalam perjumpaan ini, yaitu ciuman hidung. Sesuatu yang terasa istimewa setelah sekian lama hidup di Jakarta yang merasa aneh dengan ciuman hidung itu. Hermanus merasa seperti kembali ke rahim ibunya, rahim Sumba.

“Hidup ini ternyata unik. Di tengah derap langkah kita bertempur dengan kerasnya Ibu Kota, berjuang menegakkan keunggulanku—di antara orang orang hebat Jakarta lainnya--ternyata kita selalu rindu rumah, rumah Sumba. Saya merasakan kehangatan itu di Lembah Cibubur,” ujar dalam sebuah kesempatan.

ee

Lembah Cibubur adalah sebuah lokasi dengan hamparan tanah kosong beberapa hektar, yang letaknya tidak jauh dari Mall Transtudio sekarang. Di tempat ini berdiri sebuah rumah yang di salah satu dindingnya tertulis Sanggar Flobamora. Mikael Umbu Zasa (alm) yang menjadi pemilik dari rumah itu terpilih menjadi Ketua Umum Ikatan Keluarga Besar Sumba (IKBS) dan langsung menggunakan Sanggar Flobamora itu menjadi Rumah Perjuangan IKBS.

Hermanus diajak Mikael Umbu Saza untuk terlibat di IKBS sebagai Sekretaris Umum. Jabatan inilah yang membuat ia banyak terlibat dalam kegiatan IKBS. Mulai dari Natal dan Paskah bersama, atraksi budaya Sumba di Car Free Day Jakarta, demo di Mabes Polri dan Kantor Penghubung NTT, hingga berjibaku membagikan sembako kala covid 19 menghujam Indonesia.

“Kegiatan kegiatan itu adalah sarananya. Tapi yang paling membuat saya bersukacita adalah kebersamaan orang Sumba di tanah rantau, khususnya di Jakarta. Begitu lekat dan begitu kuat mengisi batin saya,” ujar Hermanus.

Ide Rumah Besar Sumba

Masa masa yang indah itu seolah berakhir, ketika kami menerima kabar Ketua Umum IKBS Mikael Umbu Zasa, meninggal dunia. Lembah Cibubur dan Sanggar Flobamora tidak bisa lagi IKBS gunakan untuk mengorganisir kegiatannya. Untuk waktu yang cukup lama, rapat rapat IKBS harus dilaksanakan dari satu tempat ke tempat lainnya. Pernah di Anjungan NTT Taman Mini, di Restoran Handayani Matraman, atau bahkan di rumah salah satu pengurus IKBS.

Meski kebersamaan dan kehangatan IKBS tetap terjaga, namun di hati Hermanus ada sesuatu yang hilang, yaitu rumah. Tepatnya rumah Sumba, tempat di mana semua orang Sumba mengeskpresikan kegembiraan dan persaudaraannya.

Ketika ia ditunjuk sebagai Ketua Umum IKBS menggantikan Mikael Umbu Zasa, Hermanus langsung mengikrarkan IKBS akan membangun Rumah Besar Sumba di Jakarta. Mendengar gagasan ini, terjadi pro kontra di antara anggota IKBS. Di antara berbagai sebab, sebab terbanyak adalah dari mana IKBS mendapatkan uang untuk membangun Rumah Besar Sumba itu. Kan dibutuhkan dalam miliaran rupiah untuk membeli tanah dan membangun rumahnya.

Hermanus bergeming. Ia jalan terus. Dengan tutur katanya yang santun dan tataman matanya yang lembut, ia meminta kesedian Mayor Jenderal (Purn) Jan Pieter Ate untuk menjadi komando dalam Pembangunan Rumah Besar Sumba itu.

Jalan sejarah terus bergulir. Tanggal 26 September 2026 nanti, tekad membangun Rumah Besar Sumba di Jakarta akan diluncurkan secara resmi. Dalam terang iman, setidaknya sudah terkumpul dana lebih dari 200 juta rupiah yang berasal dari donasi anggota IKBS. “Dana 200 juta itu masih merupakan janji iman yang akan dibayarkan secara cicil selama 2 tahun bagi mereka yang sudah menyampaikan janji imannya. Target kami dalam 2 tahun terkumpul dana lebih dari 2 miliar rupiah,” jelas Hermanus.

Di website ini, anda bisa melihat secara real time berapa besar dana yang terkumpul dan siapa saja yang menjadi donaturnya. (CR)    

Donasi Sekarang
Bagikan media

Bagikan media ini