← Semua berita
Bagikan cerita

Bagikan halaman ini

Mau ke Sumba, Malah Terbang ke Sumbawa, Kok Bisa?

Pada 25 Februari 2010, Saya menulis di koran The Jakarta Post sebuah kisah menarik tentang seorang pria yang hendak melihat langsung kuda Sumba, Nusa Tenggara Timur. Ia sudah membayangkan akan tiba di pulau yang terkenal dengan kuda-kudanya itu. Namun, entah bagaimana, ia justru tersesat ke Sumbawa di NTB.
Mau ke Sumba, Malah Terbang ke Sumbawa, Kok Bisa?

Apakah ini karena Sumba kurang terkenal? Mungkin. Tetapi pesona kuda Sumba sesungguhnya telah menjadi magnet. Bukan hanya kudanya. Padang sabananya yang luas, kampung-kampung adatnya, pantainya yang molek, serta kekayaan budaya yang masih hidup membuat Sumba sesungguhnya jauh lebih layak tersohor daripada yang dikenal dunia hari ini.

Dan salah satu orang yang ikut membawa nama Sumba melalui kudanya adalah Billy Mamola.

Pria kelahiran Bandung, 3 Februari 1954, ini adalah pencinta kuda yang luar biasa. Puluhan tahun hidupnya dicurahkan untuk menunggang, merawat, melatih, sekaligus mempelajari karakter kuda. Ia bahkan pernah meninggalkan pendidikan sekolah dasar karena kecintaannya pada hewan tersebut.

Pengalamannya tidak berhenti di arena pacuan atau peternakan. Billy pernah menjadi juara Indonesia Open Equestrian Championships 2000. Ia juga mendapat penghargaan kehormatan dari Kepolisian Priangan atas jasanya melatih keterampilan berkuda bagi aparat kepolisian di wilayah tersebut. Berkat bantuannya, Kepolisian Cimahi berhasil membentuk unit Polisi Pariwisata berkuda.

Namun, salah satu pencapaian yang paling menarik terjadi pada 10 Agustus 2008.

Dengan menunggang kuda asli Nusantara, Billy menempuh perjalanan maraton lebih dari 600 kilometer selama 12 hari, pulang-pergi dari Lembang ke Pangandaran. Perjalanan itu mengantarkannya mencatatkan rekor MURI (Museum Rekor-Dunia Indonesia).

“Saya ingin membuktikan bahwa kuda lokal tidak kalah saing jika dibandingkan dengan kuda dari luar negeri,” ujarnya.

Kuda Sumba Pecahkan Rekor

Kuda yang dipakainya untuk memecahkan rekor itu berasal dari Sumba.

Kisahnya bermula dari rasa penasaran. Billy pernah mendengar bahwa kuda Sumba merupakan salah satu kuda paling tangguh di Indonesia. Ia ingin membuktikan sendiri kabar tersebut. Ia pun terbang ke Sumba dan membeli seekor kuda yang kemudian diberinya nama Horse of the Archipelago—Kuda Nusantara.

Bersama kuda Sumba itulah ia membuktikan ketangguhan kuda lokal Indonesia.

rr
Kecintaan Billy terhadap kuda sebenarnya telah tumbuh jauh sebelum itu. Sejak berusia enam tahun, ketika pertama kali duduk di atas pelana, ia seperti menemukan dunianya. Sejak saat itu, kuda bukan sekadar hewan yang ditungganginya. Kuda menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Billy memiliki darah campuran Belanda, Dayak, dan Tionghoa. Namun, ketika ditanya mengapa ia begitu mencintai kuda, jawabannya justru sederhana.

“Kata-kata tak mampu mengungkapkan alasan saya menyukai kuda.”

Baginya, kuda memiliki karakter kuat, fisik tangguh, dan sifat tulus. Kuda juga mampu merasakan ketulusan manusia.

Karena itu, menurut Billy, merawat kuda menuntut ketulusan.

“Jadi, saat merawat kuda, kita harus tulus—tidak hanya kepada kuda, tetapi juga terhadap segala hal dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Lebih dari Lima Puluh Tahun

Selama sekitar 50 tahun, ia menghabiskan hidup untuk mempelajari hewan yang dicintainya itu. Ia belajar menunggang, merawat, melatih, bahkan memperdalam pengetahuannya melalui berbagai pelatihan di Jerman dan Belanda.

Dari pengalaman panjang itu, Billy sampai pada keyakinan bahwa kualitas kuda lokal Indonesia tidak kalah dibandingkan kuda dari luar negeri. Yang kurang, menurut dia, bukan kualitas kudanya, melainkan perhatian dan pengembangbiakannya yang belum dilakukan secara serius.

“Selama ini, kuda-kuda kita dikembangbiakkan tanpa perencanaan,” katanya.

Kuda Sumba kemudian menjadi salah satu bukti yang ingin ia tunjukkan kepada publik.

Atas jasanya meningkatkan popularitas kuda Sumba, Billy mendapat apresiasi khusus dari Bupati Sumba Timur saat itu, Gidion Mbilijora. Billy dihadiahi enam ekor kuda Sumba. Kuda-kuda tersebut kemudian dipelihara di peternakannya, De Ranch.

Bagi Billy, dunia kuda bukan sekadar pekerjaan. Ia telah menemukan jati dirinya di sana.

Setiap hari, hidupnya tidak jauh dari kuda. Di sela-sela kesibukan merawat ternak, ia berkuda melintasi hutan dan pegunungan di kawasan Kabupaten Bandung, termasuk wilayah yang berada di ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut.

Ia mengenal kawasan itu begitu baik. Jika penyanyi Ebiet G. Ade dalam lagunya Yogyakarta berbicara tentang jejak kaki di berbagai sudut Yogyakarta, Billy seperti memiliki penanda sendiri di pegunungan Bandung: jejak tapal kuda.

Di Gunung Tangkuban Perahu maupun Gunung Putri, jejak itu menjadi bagian dari kehidupannya.

Di peternakannya yang berdiri di atas lahan seluas lima hektare di kaki Gunung Tangkuban Perahu dan Gunung Putri, Billy merawat kuda-kuda kesayangannya. Ia juga memelihara sapi dan kambing serta memandu pengunjung menikmati wisata berkuda ala koboi.

Ia bahkan ingin mengubah pandangan bahwa koboi hanya milik Amerika Serikat.

“Saya ingin mengubah citra masyarakat yang menganggap koboi hanya ada di Amerika Serikat. Di Jawa Barat pun ada koboi, dan ya, sayalah orangnya,” ujarnya seraya tertawa.

Tetapi jauh di balik tawa itu, ada kecintaan yang telah bertahan lebih dari setengah abad.

Dan di antara begitu banyak jejak yang ditinggalkan Billy, salah satunya membawa kita kembali ke sebuah pulau di timur Indonesia: Sumba.

Pulau dengan sabana yang terbuka luas, kampung-kampung adat yang masih bernapas, pantai-pantai yang molek, dan kuda-kuda tangguh yang ternyata mampu mengantarkan seorang koboi dari Parahyangan mencatatkan namanya dalam sejarah. (EMANUEL DAPALOKA)


Donasi Sekarang
Bagikan media

Bagikan media ini