Rumah Besar Sumba di Jakarta: Atap Berteduh, Bertumbuh, dan Berbagi
Jakarta adalah magnet. Ia menarik orang-orang dari berbagai sudut negeri. Semua datang membawa harapan: mencari pekerjaan, menuntut ilmu, membangun usaha, atau mengejar kehidupan yang lebih baik.
Jakarta adalah magnet. Ia menarik orang-orang dari berbagai sudut negeri. Semua datang membawa harapan: mencari pekerjaan, menuntut ilmu, membangun usaha, atau mengejar kehidupan yang lebih baik.
Bagi sebagian orang, Jakarta dapat mengubah segalanya. Mereka yang memiliki pendidikan, keterampilan, ketekunan, keteguhan, jaringan, dan kemauan bekerja keras, Jakarta membuka sayapnya menuai keberhasilan.
Tetapi Jakarta juga bisa menjadi medan pertarungan yang keras dan acap kali tidak berperasaan.
Tidak semua orang datang dengan bekal yang sama. Bagi mereka yang tidak memiliki pendidikan dan keterampilan memadai, tidak punya keluarga atau jaringan yang dapat membantu, Jakarta tidak selalu menjadi kota yang ramah. Ketika sakit, kehilangan pekerjaan, mengalami persoalan, atau bahkan meninggal dunia, kehidupan di kota sebesar Jakarta dapat menjadi sangat berat.
Dua wajah Jakarta itu juga dialami anak-anak kandung Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Ada yang berhasil. Ada pula yang harus berjuang keras, bahkan menghadapi berbagai kesulitan seorang diri.
Kami pernah mengalami sebuah kisah yang hingga kini masih membekas. Suatu hari, melalui grup WhatsApp, tersiar kabar bahwa seorang gadis Sumba yang bekerja di sebuah perusahaan kecil di Jakarta meninggal dunia. Ia sempat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Cengkareng, Jakarta Barat. Penyakit TBC yang dideritanya sudah parah. Nyawanya tidak tertolong.
Persoalan berikutnya segera muncul: jenazahnya hendak disemayamkan di mana? Di Jakarta, almarhumah tidak memiliki rumah dan keluarga dekat. Ia hanya seorang anak kos.
Kami yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Besar Sumba (IKBS) Jabodetabek terpanggil untuk mengurus jenazahnya secara layak. Banyak di antara kami bukan keluarga dekatnya. Tetapi sebagai sesama perantau dari Sumba, kami merasa bahwa ia adalah saudara kami.
Sementara itu, keluarganya di Sumba menangis dan memohon agar kami mengurus jenazah anak mereka dengan baik.
Kami bergerak. Anggota IKBS mencari rumah duka yang layak dengan biaya yang terjangkau. Setelah berkeliling, akhirnya kami mendapatkan tempat di Jakarta Barat. Kami bergotong royong mengumpulkan dana untuk membayar rumah duka, ambulans, pemulasaran jenazah, hingga peti jenazah.
Dalam suasana dan berbagai pengalaman yang senada, sebuah pertanyaan muncul: Bagaimana jika IKBS memiliki rumah sendiri? Pengalaman serupa sering sekali terjadi.
Kami membayangkan sebuah Rumah Besar Sumba. Jika rumah itu sudah ada, ketika seorang anak Sumba mengalami kesusahan, ia tahu ke mana harus datang. Ketika sakit, ada tempat untuk berteduh. Ketika kehilangan pekerjaan, ada tempat untuk mendapatkan informasi dan penguatan. Ketika menghadapi persoalan, ada saudara yang dapat mendampingi. Bahkan ketika meninggal dunia jauh dari kampung halaman, ada tempat yang layak untuk menyemayamkannya sebelum dipulangkan kepada keluarganya di Sumba.
Namun Rumah Besar Sumba tidak boleh hanya menjadi tempat berlindung ketika masalah datang. Ia harus menjadi rumah pemberdayaan.
Anak-anak Sumba yang datang ke Jakarta perlu dibekali keterampilan, informasi pekerjaan, pengetahuan, pendampingan, dan kemampuan agar mampu berdiri di atas kaki sendiri. Kita tidak hanya menolong mereka ketika jatuh, tetapi juga membantu mereka agar lebih kuat menghadapi kehidupan. Singkatnya, mereka tahu mengerjakan apa dengan cara bagaimana. Tahu pula membawa diri.
Rumah Besar Sumba sekaligus dapat menjadi pusat informasi dan kebudayaan Sumba.
Meninggalkan Sumba tidak berarti meninggalkan identitas. Orang Sumba di perantauan tetap terpanggil menjaga adat istiadat, seni tari, seni tutur, tenun, musik, dan berbagai warisan leluhur. Anak-anak pun perlu diperkenalkan kepada kebudayaan itu agar mereka mengenal dari mana mereka berasal.
Kami membayangkan Rumah Besar Sumba menjadi ruang bagi seniman dan budayawan untuk berkarya, berdiskusi, mengajarkan seni, dan berkolaborasi dengan seniman dari berbagai daerah bahkan berbagai negara.
Sastrawan W.S. Rendra pernah mengatakan bahwa kebudayaan daerah adalah puncak-puncak kebudayaan nasional. Karena itu, menghadirkan Rumah Besar Sumba di Jakarta bukanlah upaya membangun sekat, melainkan cara memperkenalkan Sumba sebagai bagian dari kekayaan Indonesia.
Rumah itu juga dapat menjadi ruang serbaguna untuk seminar, workshop, pernikahan, perayaan, pameran, pertunjukan seni, dan berbagai kegiatan lainnya. Dengan demikian, ia bukan hanya memiliki nilai sosial dan budaya, tetapi juga nilai ekonomi.
Lebih dari sebuah bangunan, Rumah Besar Sumba adalah ruang perjumpaan. Di sana orang Sumba dapat bertemu dengan orang Sunda, Jawa, Batak, Papua, Kalimantan, Maluku, dan berbagai suku lainnya. Dari perjumpaan lahir pengenalan; dari pengenalan tumbuh pengertian; dari pengertian lahir penghargaan dan persaudaraan.
Dalam perspektif tersebut, pembangunan Rumah Besar Sumba bukan hanya urusan orang Sumba.
Untuk itulah kami mengajak siapa saja—orang Sumba, saudara-saudara dari berbagai suku di Indonesia, sahabat-sahabat yang mencintai Sumba, dunia usaha, pemerhati kebudayaan, maupun mereka yang berada di mancanegara—untuk bergotong royong mewujudkannya.
Untuk mendukung gerakan ini, kami membangun rumahbesarsumba.com sebagai pusat informasi mengenai pembangunan Rumah Besar Sumba, kebudayaan Sumba, kegiatan IKBS, serta penggalangan dana.
Donasi dapat dilakukan secara online dan tercatat secara real time. Jumlah donatur, total donasi, dan penggunaannya dapat dipantau secara terbuka. Setiap dana yang dipercayakan kepada kami akan dipertanggungjawabkan secara transparan. Kami memiliki konitmen yang kuat tentang ini.
Mengapa? Sebab Rumah Besar Sumba bukan sekadar gedung. Ia adalah rumah bagi anak-anak Sumba di perantauan. Rumah untuk berteduh ketika susah, bertumbuh ketika berjuang, dan berbagi ketika berhasil.
Mari bahu membahu membangun Rumah Besar Sumba di Jakarta. Di rumah ini kita bisa tumpahkan rindu pada Sumba, pada tanah basah dan kering kampung halaman, dan seribu kuda yang selalu berlari.
Bagi sebagian orang, Jakarta dapat mengubah segalanya. Mereka yang memiliki pendidikan, keterampilan, ketekunan, keteguhan, jaringan, dan kemauan bekerja keras, Jakarta membuka sayapnya menuai keberhasilan.
Tetapi Jakarta juga bisa menjadi medan pertarungan yang keras dan acap kali tidak berperasaan.
Tidak semua orang datang dengan bekal yang sama. Bagi mereka yang tidak memiliki pendidikan dan keterampilan memadai, tidak punya keluarga atau jaringan yang dapat membantu, Jakarta tidak selalu menjadi kota yang ramah. Ketika sakit, kehilangan pekerjaan, mengalami persoalan, atau bahkan meninggal dunia, kehidupan di kota sebesar Jakarta dapat menjadi sangat berat.
Dua wajah Jakarta itu juga dialami anak-anak kandung Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Ada yang berhasil. Ada pula yang harus berjuang keras, bahkan menghadapi berbagai kesulitan seorang diri.
Kami pernah mengalami sebuah kisah yang hingga kini masih membekas. Suatu hari, melalui grup WhatsApp, tersiar kabar bahwa seorang gadis Sumba yang bekerja di sebuah perusahaan kecil di Jakarta meninggal dunia. Ia sempat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Cengkareng, Jakarta Barat. Penyakit TBC yang dideritanya sudah parah. Nyawanya tidak tertolong.
Persoalan berikutnya segera muncul: jenazahnya hendak disemayamkan di mana? Di Jakarta, almarhumah tidak memiliki rumah dan keluarga dekat. Ia hanya seorang anak kos.
Kami yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Besar Sumba (IKBS) Jabodetabek terpanggil untuk mengurus jenazahnya secara layak. Banyak di antara kami bukan keluarga dekatnya. Tetapi sebagai sesama perantau dari Sumba, kami merasa bahwa ia adalah saudara kami.
Sementara itu, keluarganya di Sumba menangis dan memohon agar kami mengurus jenazah anak mereka dengan baik.
Kami bergerak. Anggota IKBS mencari rumah duka yang layak dengan biaya yang terjangkau. Setelah berkeliling, akhirnya kami mendapatkan tempat di Jakarta Barat. Kami bergotong royong mengumpulkan dana untuk membayar rumah duka, ambulans, pemulasaran jenazah, hingga peti jenazah.
Dalam suasana dan berbagai pengalaman yang senada, sebuah pertanyaan muncul: Bagaimana jika IKBS memiliki rumah sendiri? Pengalaman serupa sering sekali terjadi.
Kami membayangkan sebuah Rumah Besar Sumba. Jika rumah itu sudah ada, ketika seorang anak Sumba mengalami kesusahan, ia tahu ke mana harus datang. Ketika sakit, ada tempat untuk berteduh. Ketika kehilangan pekerjaan, ada tempat untuk mendapatkan informasi dan penguatan. Ketika menghadapi persoalan, ada saudara yang dapat mendampingi. Bahkan ketika meninggal dunia jauh dari kampung halaman, ada tempat yang layak untuk menyemayamkannya sebelum dipulangkan kepada keluarganya di Sumba.
Namun Rumah Besar Sumba tidak boleh hanya menjadi tempat berlindung ketika masalah datang. Ia harus menjadi rumah pemberdayaan.
Anak-anak Sumba yang datang ke Jakarta perlu dibekali keterampilan, informasi pekerjaan, pengetahuan, pendampingan, dan kemampuan agar mampu berdiri di atas kaki sendiri. Kita tidak hanya menolong mereka ketika jatuh, tetapi juga membantu mereka agar lebih kuat menghadapi kehidupan. Singkatnya, mereka tahu mengerjakan apa dengan cara bagaimana. Tahu pula membawa diri.
Rumah Besar Sumba sekaligus dapat menjadi pusat informasi dan kebudayaan Sumba.
Meninggalkan Sumba tidak berarti meninggalkan identitas. Orang Sumba di perantauan tetap terpanggil menjaga adat istiadat, seni tari, seni tutur, tenun, musik, dan berbagai warisan leluhur. Anak-anak pun perlu diperkenalkan kepada kebudayaan itu agar mereka mengenal dari mana mereka berasal.
Kami membayangkan Rumah Besar Sumba menjadi ruang bagi seniman dan budayawan untuk berkarya, berdiskusi, mengajarkan seni, dan berkolaborasi dengan seniman dari berbagai daerah bahkan berbagai negara.
Sastrawan W.S. Rendra pernah mengatakan bahwa kebudayaan daerah adalah puncak-puncak kebudayaan nasional. Karena itu, menghadirkan Rumah Besar Sumba di Jakarta bukanlah upaya membangun sekat, melainkan cara memperkenalkan Sumba sebagai bagian dari kekayaan Indonesia.
Rumah itu juga dapat menjadi ruang serbaguna untuk seminar, workshop, pernikahan, perayaan, pameran, pertunjukan seni, dan berbagai kegiatan lainnya. Dengan demikian, ia bukan hanya memiliki nilai sosial dan budaya, tetapi juga nilai ekonomi.
Lebih dari sebuah bangunan, Rumah Besar Sumba adalah ruang perjumpaan. Di sana orang Sumba dapat bertemu dengan orang Sunda, Jawa, Batak, Papua, Kalimantan, Maluku, dan berbagai suku lainnya. Dari perjumpaan lahir pengenalan; dari pengenalan tumbuh pengertian; dari pengertian lahir penghargaan dan persaudaraan.
Dalam perspektif tersebut, pembangunan Rumah Besar Sumba bukan hanya urusan orang Sumba.
Untuk itulah kami mengajak siapa saja—orang Sumba, saudara-saudara dari berbagai suku di Indonesia, sahabat-sahabat yang mencintai Sumba, dunia usaha, pemerhati kebudayaan, maupun mereka yang berada di mancanegara—untuk bergotong royong mewujudkannya.
Untuk mendukung gerakan ini, kami membangun rumahbesarsumba.com sebagai pusat informasi mengenai pembangunan Rumah Besar Sumba, kebudayaan Sumba, kegiatan IKBS, serta penggalangan dana.
Donasi dapat dilakukan secara online dan tercatat secara real time. Jumlah donatur, total donasi, dan penggunaannya dapat dipantau secara terbuka. Setiap dana yang dipercayakan kepada kami akan dipertanggungjawabkan secara transparan. Kami memiliki konitmen yang kuat tentang ini.
Mengapa? Sebab Rumah Besar Sumba bukan sekadar gedung. Ia adalah rumah bagi anak-anak Sumba di perantauan. Rumah untuk berteduh ketika susah, bertumbuh ketika berjuang, dan berbagi ketika berhasil.
Mari bahu membahu membangun Rumah Besar Sumba di Jakarta. Di rumah ini kita bisa tumpahkan rindu pada Sumba, pada tanah basah dan kering kampung halaman, dan seribu kuda yang selalu berlari.